"<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><strong><span class=\"\">Batulicin, Tanah Bumbu<\/span><\/strong><span class=\"\">\u00a0\u2013 Musim kemarau kali ini terasa cukup panjang. Tapi di Lapas Kelas III Batulicin, genangan air yang menipis tak menyurutkan semangat Warga Binaan untuk merawat kebun. Senin (31\/8) kemarin, mereka memanen 50 kilogram kangkung dari lahan yang dikelola sendiri.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">Hasil panen itu langsung diserahkan ke Dapur Sehat Lapas untuk dimasak dan dikonsumsi bersama. Puluhan kilogram sayuran hijau itu jadi tambahan menu bagi Warga Binaan lainnya.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">Prosesnya memang nggak instan. Sejak tanam, penyiraman, pemupukan, sampai akhirnya bisa dipetik, semua dilakukan manual. Apalagi di tengah kemarau begini, air jadi barang berharga. Tapi mereka tetap jalanin, soal mau berhasil atau nggak, itu urusan belakangan.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">\"Walaupun air terbatas karena kondisi kemarau, kami tetap berusaha merawat tanaman agar bisa tumbuh sampai panen. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa hasil membutuhkan kesabaran, keyakinan, dan tanggung jawab untuk menjalankan tugas sampai selesai,\" ujar salah seorang Warga Binaan berinisial H, sembari memegang ikat kangkung yang baru dipetik.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Batulicin, Harry Indrawan, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar berkebun. Ada nilai pembinaan di dalamnya. Mereka diajari konsisten, disiplin, dan bertanggung jawab penuh terhadap apa yang mereka tanam. Kalau hasilnya bisa dimakan bersama, itu bonus.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">\"Panen kangkung ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang mengajarkan Warga Binaan untuk mengelola tanaman secara konsisten hingga menghasilkan. Ketika hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pangan di Lapas, kegiatan ini memiliki nilai pembinaan sekaligus manfaat yang nyata,\" ujar Harry.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, juga mendukung penuh program pertanian ini. Menurutnya, hasil panen yang bisa langsung dimanfaatkan jadi bukti bahwa pembinaan produktif itu bukan sekadar teori. Ada dampak nyata yang dirasakan, baik oleh Warga Binaan maupun lingkungan Lapas itu sendiri.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">\"Kami terus mendukung kegiatan pertanian sebagai bagian dari pembinaan kemandirian yang memberikan pengalaman nyata kepada Warga Binaan. Hasil panen yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam Lapas menunjukkan bahwa pembinaan dapat berjalan produktif sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan Lapas,\" tegasnya.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">Kangkung 50 kilogram memang bukan angka besar. Tapi di Lapas Batulicin, setiap ikatnya punya cerita. Tentang bagaimana seseorang belajar menghargai waktu, air, dan usahanya sendiri. Sambil menunggu hujan turun, mereka tetap menanam. Dan terus menanam.<\/span><\/p>"