"Laba Bersih BNI Capai Rp10,8 Triliun, Ditopang Mesin Pertumbuhan yang Semakin Seimban\r\n\r\nPendapatan bunga bersih dan pendapatan berbasis komisi yang tumbuh solid mendorong PPOP BNI mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama.\r\n\r\nJakarta, 7 Agustus 2026 - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatatkan laba bersih sebesar Rp10,8 triliun pada semester I 2026. Capaian tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan inti, ekspansi kredit yang sehat dan terdiversifikasi, peningkatan transaksi digital, struktur pendanaan yang kuat, serta kualitas aset yang tetap terjaga. Kombinasi tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) BNI mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi sepanjang sejarah Perseroan untuk periode semester pertama.\r\n\r\nPenguatan fundamental bisnis BNI tercermin dari pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang tumbuh 14,2% secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun. Pada periode yang sama, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) meningkat 14,2% menjadi Rp9 triliun.\r\n\r\nDirektur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, penguatan profitabilitas menunjukkan kontribusi bisnis inti BNI yang semakin solid dan berimbang.\r\n\r\n\"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,\" ujar Paolo\r\n\r\nPertumbuhan Bisnis Bergerak Bersama\r\n\r\nPertumbuhan pendapatan bunga bersih didukung oleh ekspansi kredit yang tetap mengedepankan kualitas. Hingga akhir Juni 2026, kredit BNI tumbuh 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun.\r\n\r\nPertumbuhan tersebut ditopang oleh portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi pada berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis utama, mulai dari korporasi, menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga konsumer.\r\n\r\nEkspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko masing-masing debitur. Pendekatan tersebut dijalankan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.\r\n\r\nPertumbuhan bisnis BNI juga didukung oleh semakin luasnya pemanfaatan layanan digital. Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta, dengan volume transaksi tumbuh 110% secara tahunan.\r\n\r\nSementara itu, pada segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu. Volume transaksi melalui platform tersebut tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.\r\n\r\nPertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan kanal digital BNI oleh nasabah ritel maupun korporasi. Peningkatan transaksi, solusi cash management, dan layanan digital turut memperkuat aktivitas berbasis komisi BNI.\r\n\r\nPendanaan dan Kualitas Aset Menopang Fundamental\r\n\r\nBeragam sumber pertumbuhan tersebut ditopang oleh struktur pendanaan yang kuat. Di tengah persaingan likuiditas industri perbankan, CASA BNI tumbuh 11,2% secara tahunan sehingga rasio CASA dapat dipertahankan pada level 65,4%.\r\n\r\nPencapaian tersebut mendukung efisiensi biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56%, dibandingkan dengan 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.\r\n\r\nStruktur pendanaan yang kuat menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga daya saing sekaligus mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan.\r\n\r\nPada saat yang sama, kualitas aset BNI tetap terjaga. Hingga akhir Juni 2026, rasio kredit berisiko atau loan at risk (LAR) membaik dari 11,0% menjadi 8,1%, sedangkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada pada level 1,9%.\r\n\r\nBNI juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif sebagai bagian dari disiplin manajemen risiko. Kebijakan tersebut memperkuat ketahanan neraca sekaligus memberikan ruang bagi Perseroan untuk melanjutkan ekspansi bisnis secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.\r\n\r\nMenjaga Momentum Pertumbuhan\r\n\r\nMemasuki paruh kedua 2026, BNI akan memperkuat struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin.\r\n\r\nBNI juga akan melanjutkan transformasi digital dan implementasi BRAVE atau Branch, Region & Area Value Empowerment untuk meningkatkan produktivitas jaringan, memperkuat kapabilitas bisnis, serta mengoptimalkan potensi ekonomi di setiap daerah.\r\n\r\nLangkah tersebut menjadi bagian dari strategi BNI untuk memperkuat fundamental dan menciptakan nilai secara berkelanjutan. Arah ini selaras dengan fokus Danantara Indonesia dalam mendorong penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai jangka panjang melalui pengelolaan BUMN.\r\n\r\nDengan dukungan pendapatan inti yang tumbuh solid, kredit yang sehat dan terdiversifikasi, transaksi digital yang meningkat, struktur pendanaan yang kuat, serta kualitas aset yang terjaga, BNI optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus meningkatkan kontribusinya bagi nasabah dan perekonomian nasional."