"<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><strong><span class=\"\">Batulicin, Tanah Bumbu<\/span><\/strong><span class=\"\">\u00a0\u2014 Komunitas Rumah Pena resmi mengumumkan 44 nama penulis yang karyanya masuk dalam antologi bertajuk\u00a0<\/span><em><span class=\"\">Suara dari Tenggara: Tentang Pikiran, Manusia, dan Catatan Zaman<\/span><\/em><span class=\"\">. Buku ini menjadi antologi esai dan opini pertama di Tanah Bumbu.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">Tercatat 47 judul esai dan opini yang dimuat, ditulis oleh pelajar, guru, dosen, jurnalis, pegiat literasi, sastrawan, budayawan, hingga pekerja kreatif di Kalimantan Selatan. Sebanyak tujuh penulis tamu turut dilibatkan dari Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">\u201cKami sengaja melibatkan penulis dari luar Tanah Bumbu agar perspektif dalam buku ini lebih luas dan beragam,\u201d ujar Editor\u00a0<\/span><em><span class=\"\">Suara dari Tenggara<\/span><\/em><span class=\"\">, Puja Mandela, Minggu (17\/5\/2026).<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">Menurutnya, antologi tersebut disusun sebagai ruang bersama untuk merekam kegelisahan sosial, perubahan budaya, pendidikan, hingga dinamika kehidupan masyarakat modern di tengah perkembangan teknologi digital.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">Selain membahas pendidikan dan budaya membaca, buku ini juga memuat berbagai refleksi tentang perubahan manusia di era modern. Mulai dari kebisingan media sosial, budaya instan, kecerdasan buatan (AI), krisis komunikasi, dunia jurnalistik, hingga kegelisahan masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">Berikut daftar lengkap penulis dan judul esai dalam\u00a0<\/span><em><span class=\"\">Suara dari Tenggara<\/span><\/em><span class=\"\">:<\/span><\/p>\r\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\"><span class=\"\">Akar Pondasi Goyah, Pohon Literasi Tumbang \u2014 Irma Wulandary<\/span>\r\n<span class=\"\">Alarm Kondisi Literasi dan Numerasi di Sekolah \u2014 Muhammad Aliansyah<\/span>\r\n<span class=\"\">Berpikir untuk Mendengar \u2014 Toto Fachrudin<\/span>\r\n<span class=\"\">Berpikir, Merasa, dan Memahami Dunia \u2014 Kaekaha<\/span>\r\n<span class=\"\">Budaya Copas \u2014 Man Hidayat<\/span>\r\n<span class=\"\">Buku adalah Jendela Dunia? \u2014 Oldra Karlinda<\/span>\r\n<span class=\"\">Bunyi-bunyian yang Tumbuh Perlahan \u2014 Richy Petroza<\/span>\r\n<span class=\"\">Cepat Berbagi, Lambat Memahami \u2014 Sri Purwanti<\/span>\r\n<span class=\"\">Dangdut Caramel Macchiato Plus Cuka \u2014 Sainul Hermawan<\/span>\r\n<span class=\"\">Dewan Kesenian Bukan Kursi Megah Raja \u2014 Novyandi Saputra<\/span>\r\n<span class=\"\">Ekosistemnya Dulu \u2014 Kahar Acink<\/span>\r\n<span class=\"\">Generasi MBG vs Generasi Literat \u2014 Sandi Firly<\/span>\r\n<span class=\"\">Generasi Pembaca Tidak Lahir dari Orang Tua yang Sempurna \u2014 Gyoti Nusu<\/span>\r\n<span class=\"\">Hijau Bukan Sekadar Warna \u2014 Halimatus Sadiah<\/span>\r\n<span class=\"\">Investasi Leher ke Atas \u2014 Agus Heriyandi<\/span>\r\n<span class=\"\">Jika Literasi Tak Sampai ke Pinggiran \u2014 Anang Azmi<\/span>\r\n<span class=\"\">Jurnalis: Mabuk dan Menangis \u2014 Zalyan Shodiqin Abdi<\/span>\r\n<span class=\"\">Ketika Literasi Kalah oleh Notifikasi \u2014 Kailla Sanabil Hazrina<\/span>\r\n<span class=\"\">Ketika Membaca Dianggap Berbahaya \u2014 Lalu A. Maulana<\/span>\r\n<span class=\"\">Ketika Nama-nama itu Disebut Lagi \u2014 Eche Subki<\/span>\r\n<span class=\"\">Kontrak dan Kritik \u2014 Zulqarnain<\/span>\r\n<span class=\"\">Kontraktor Literasi dan Sastra yang Tak Menghidupi \u2014 Puja Mandela<\/span>\r\n<span class=\"\">Krisis Membaca di Ruang Guru \u2014 Indah Dwi Rohmah<\/span>\r\n<span class=\"\">Lipstik Delapan Huruf \u2014 Puja Mandela<\/span>\r\n<span class=\"\">Literasi Bukan Hanya Diksi \u2014 Ilham Bahari<\/span>\r\n<span class=\"\">Membaca Dunia, Merajut Imajinasi \u2014 Pasha Ali Rasyid<\/span>\r\n<span class=\"\">Membangun Budaya Membaca dari Rumah \u2014 Dadik Historia<\/span>\r\n<span class=\"\">Membiasakan, Bukan Memaksakan \u2014 Aditya Irfiandi<\/span>\r\n<span class=\"\">Mending Jurnalisme Kepiting Ketimbang Jurnalisme Siput \u2014 Muhammad Syarafudin<\/span>\r\n<span class=\"\">Mengurai Kebisingan Publik \u2014 Muh. Sulfihidayatullah<\/span>\r\n<span class=\"\">Memanjangkan Napas, Merawat Eksistensi \u2014 Ahmad Maulana<\/span>\r\n<span class=\"\">Mereka Bilang Itu Membosankan \u2014 Annisa Rania<\/span>\r\n<span class=\"\">Menyentuh Hati, Menggerakkan Harapan \u2014 Asniyati<\/span>\r\n<span class=\"\">Modern Tapi Kesepian \u2014 Syahriadi<\/span>\r\n<span class=\"\">Obat, Dosis dan Informasi \u2014 Sujud Mariono<\/span>\r\n<span class=\"\">Penulis Jangan Lahir Dulu \u2014 Rafii Syihab<\/span>\r\n<span class=\"\">Rak Kosong Perpustakaan \u2014 Zulqarnain<\/span>\r\n<span class=\"\">Remedialisme \u2014 Ayu Sita<\/span>\r\n<span class=\"\">Ruang Pulang di Tanah Rantau \u2014 Andi Utari Putri<\/span>\r\n<span class=\"\">Secarik Kertas dari Belakang \u2014 Muhammad Bulkini<\/span>\r\n<span class=\"\">Smart Teen in AI Era \u2014 R. Kayla<\/span>\r\n<span class=\"\">Satu Kata Paling Bermakna \u2014 Hasni Maulida<\/span>\r\n<span class=\"\">Sudut Jendela: Antara AI dan Kita yang Miskin Kata \u2014 Ismail<\/span>\r\n<span class=\"\">Untuk Siapa Literasi Itu? \u2014 Arif Rachman<\/span>\r\n<span class=\"\">Wartawan Seremonial \u2014 Puja Mandela<\/span>\r\n<span class=\"\">Wartawan, LSM, dan Kaburnya Batas \u2014 Andrianto Mokodompit<\/span>\r\n<span class=\"\">Kami Diberi Dunia di Genggaman, Tapi Tanah Kami Masih Sunyi Pemahaman \u2014 Rouselline Renata Ramadhanti (*)<\/span><\/p>"