"\n\t\t\n\n<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\nDinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) melalui Bidang Tanaman Pangan menetapkan tujuh program prioritas untuk tahun 2026 sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendorong pengembangan ekonomi kreatif di sektor pertanian.<\/p>\n\n\n\nKepala DPKP Kalsel, Syamsir Rahman, melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan, Rahmawati, menyampaikan bahwa deretan program tersebut merupakan bagian dari komitmen Gubernur dan Wakil Gubernur Kalsel untuk lima tahun mendatang.<\/p>\n\n\n\n\u201cDi tahun 2026 kita memiliki program-program prioritas untuk memperkuat ketahanan pangan dan pengembangan ekonomi kreatif. Ini merupakan janji gubernur dan wakil gubernur kita yang akan terus berjalan hingga 2030,\u201d ujar Rahmawati, Jumat (12\/12\/2025).<\/p>\n\n\n\nAdapun Tujuh Program Prioritas Bidang Tanaman Pangan Tahun 2026 yaitu pertama Penerapan Konsep Zero Waste dalam Budidaya Padi Berkelanjutan<\/p>\n\n\n\nProgram ini menitikberatkan pada upaya mewujudkan pertanian hijau melalui pemanfaatan hasil samping padi tanpa limbah, sehingga menciptakan nilai tambah bagi petani. <\/p>\n\n\n\nKedua Porang Reborn, Peningkatan Kapasitas Petani Porang Bernilai Tinggi. DPKP Kalsel kembali menghidupkan geliat budidaya porang setelah harga komoditas ini kembali stabil di kisaran Rp10\u201311 ribu per kilogram.\u00a0<\/p>\n\n\n\n\u201cPorang sempat anjlok, tapi sekarang bangkit lagi. Apalagi sudah ada pabrik pengolahan porang di Batibati milik investor Cina, sehingga petani tidak perlu jauh menjual hasil panennya,\u201d jelas Rahmawati.<\/p>\n\n\n\nKetiga Rising Rice: Pengembangan Beras Khusus Bernilai Tinggi Program ini menargetkan pengembangan budidaya hingga hilirisasi beras khusus sebagai ikon pangan lokal berdaya saing tinggi.<\/p>\n\n\n\nKeempat Analog Rice Revolution: Membangkitkan Ubi Kayu sebagai Beras Sehat Berbasis Inovasi Lokal. Melalui program ini, ubi kayu tidak hanya dikembangkan sebagai komoditas pertanian, tetapi juga diolah menjadi beras analog yang diminati masyarakat terutama kalangan yang membutuhkan alternatif beras sehat.<\/p>\n\n\n\n\u201cIni sudah berjalan. Antusias masyarakat, terutama pelaku diet dan pecinta pangan sehat, sangat baik,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\nKelima Gerakan Lahan Pangan Bersertifikat DPKP Kalsel memberikan sertifikasi lahan secara gratis untuk meningkatkan legalitas, kualitas produksi, dan nilai jual komoditas.<\/p>\n\n\n\n\u201cJika lahan porang bersertifikat, nilai jual panennya otomatis lebih tinggi. Sertifikasi ini gratis,\u201d tambah Rahmawati.<\/p>\n\n\n\nKeenam Petani Organik Naik Kelas. Program sertifikasi gratis untuk produk pertanian organik guna meningkatkan daya saing dan nilai jual di pasar. Ketujuh Padi Apung Tumbuh, Benih Unggul Terwujud. Mengembangkan inovasi padi apung dari produksi gabah menjadi produksi benih sumber yang ditanam di lahan rawa.<\/p>\n\n\n\n\u201cSekarang padi apung tidak hanya untuk konsumsi, tapi untuk menghasilkan benih unggul. Ke depan, kita juga akan mengembangkan beras khusus berbasis padi apung, termasuk beras organik bernilai tinggi,\u201d kata Rahmawati.<\/p>\n\n\n\nKetujuh program tersebut menjadi fondasi arah pembangunan sektor pangan Kalsel hingga tahun 2030.\u00a0<\/p>\n\n\n\nDPKP Kalsel menargetkan kontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan petani, penguatan ketahanan pangan daerah, dan perluasan peluang ekonomi kreatif di sektor pertanian.<\/p>\n\n\n\n\u201cSemoga program ini berjalan optimal hingga 2030 dan mampu menjawab tantangan pangan ke depan,\u201d tutup Rahmawati. MC Kalsel\/tgh<\/p>\n\t\t\t<\/div>"